Jogja tak hanya kaya dengan candi
dan peninggalan Hindu-Buddha. Di balik keramaian Prambanan, terdapat jejak
sejarah yang tak kalah sakral dan mendalam: Bangsal Palereman. Tempat ini
menjadi saksi bisu perjalanan terakhir para raja dari Dinasti Mataram Islam
menuju keabadian.
Selain Bangsal Palereman, Jogja
juga menyimpan banyak warisan budaya lain, seperti Makam Raja Imogiri, Masjid
Kotagede, dan Keraton Yogyakarta. Semua menjadi pengingat akan sejarah panjang
kerajaan Islam di tanah Jawa.
24 Pilar di Bangsal
Palereman dari samping, Prambanan, Minggu (27/04). Foto: Dyan Purnama
Sejarah dan Fungsi Bangsal Palereman
Nama Palereman berasal dari
kata lerem dalam bahasa Jawa yang berarti "berhenti" atau
"istirahat". Bangunan ini bukan sekadar tempat biasa, melainkan pos
transit terakhir jenazah raja-raja dari Kartasura dan Surakarta sebelum
dikebumikan di Makam Imogiri.
Bangsal ini terletak di Prambanan
dan berbentuk terbuka tanpa dinding, berdiri dengan 24 pilar berbentuk bulat
bergaya Doria yang memberi nuansa klasik Eropa. Dahulu, ketika jenazah raja
diarak dengan kereta kuda dan tenaga manusia dari Surakarta, tempat ini
digunakan sebagai tempat peristirahatan sementara.
Menurut Ibu Sri, salah satu warga
sekitar, bangsal ini menyimpan makna sakral yang masih dikenang masyarakat
hingga kini. “Kata orang zaman dulu, bangsal ini dipakai untuk peristirahatan
kereta kuda yang mengangkut jenazah raja sebelum ke makam raja-raja Imogiri.
Untuk sekarang, bangsal ini digunakan untuk warga sekitar sebagai tempat untuk
kegiatan sosial,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Tidak ada catatan pasti mengenai
tahun pendiriannya. Namun, merujuk pada “Babad Sala” dan keberadaan jalur
kereta api sejak era Paku Buwono IV (sekitar 1881), diperkirakan bangsal ini
sudah berdiri jauh sebelumnya.
Tugu Cagar
Budaya Bangsal Palereman, Prambanan, Minggu (27/04). Foto: Dyan Purnama
Cagar Budaya yang Masih Hidup
Kini, Bangsal Palereman tak lagi
menjalankan fungsi awalnya. Namun, bangunan ini tetap hidup, beradaptasi dengan
zaman. Ia kini menjadi ruang terbuka untuk berbagai acara budaya, kesenian,
hingga kegiatan sosial masyarakat. Suasana sakral dan tenang masih terasa,
seakan ada dinding tak kasat mata yang menjaga kesunyian dan khidmatnya.
Bangsal ini telah ditetapkan
sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Usianya yang lebih dari
50 tahun, nilai sejarah, budaya, serta keunikan arsitekturnya menjadikannya
satu-satunya bangsal bersejarah semacam ini di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Foto
Tampak Dalam Bangsal Palereman, Prambanan, Minggu (27/04). Foto: Dyan Purnama
Mengingat dan Merenung di Bangsal Palereman
Bangsal Palereman bukan sekadar
bangunan tua. Ia adalah warisan tak ternilai, pintu gerbang simbolis menuju
dunia keabadian. Tempat ini mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, merenung
di tengah perjalanan hidup yang serba cepat.
Jika suatu hari kamu melintas di
Prambanan, luangkan waktu untuk berhenti di Bangsal Palereman. Rasakan hembusan
angin yang membawa bisikan masa lalu, dan biarkan dirimu sejenak lerem
di tengah perjalanan hidup yang kadang terlalu cepat ini, untuk sekadar diam,
menarik napas dalam-dalam, meresapi keheningan, dan mengingat bahwa dalam
setiap langkah menuju masa depan, selalu ada nilai dari jeda yang memberi
makna.
Sebab dalam diamnya bangsal ini,
tersimpan gema kehidupan yang pernah berlalu. Pilar-pilar kokohnya seolah
bercerita tentang para raja yang pernah melewatinya, tentang kereta kuda yang
membawa kehormatan terakhir, dan tentang masyarakat yang menghormati perhentian
sebagai bagian dari perjalanan. Di sinilah ruang dan waktu menyatu antara
sejarah, arsitektur, dan jiwa-jiwa yang pernah singgah.