Sumber foto: goodreads
Identitas Buku
Judul Buku: Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci
Piring
Penulis: Andreas Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 212 halaman
Terbit : Desember 2023
ISBN: 9786020674674
Sinopsis
"Seorang
Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" adalah kisah personal yang
ditulis oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ., seorang psikiater yang menghadapi
kehilangan besar dalam hidupnya: kematian ayah dan anaknya. Melalui buku ini,
ia membagikan proses berdukanya secara jujur, hangat, dan manusiawi, tanpa sok
kuat atau mencoba menjadi pahlawan dalam cerita sendiri.
Yang
menarik, dr. Andreas memilih aktivitas yang paling ia tidak sukai “mencuci
piring” sebagai simbol dari proses duka. Ia mengajak pembaca melihat bahwa
duka, seperti mencuci piring, adalah sesuatu yang tak ada orang suka
melakukannya, tapi pada akhirnya, seseorang harus menghadapinya juga. Lewat
rutinitas sederhana itu, ia menemukan ruang untuk mindfulness. Setiap langkah
mencuci piring menjadi semacam meditasi, bukan untuk menghilangkan duka,
melainkan untuk memberinya ruang. Karena duka tak akan pernah benar-benar
hilang. Justru kita yang perlu bertumbuh, memperluas wadah diri agar bisa
menampungnya.
Buku
ini tidak ditulis untuk menggurui atau memberi petunjuk bagaimana seharusnya
seseorang berduka. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca untuk berhenti
membandingkan luka dan berhenti memberi tahu orang lain cara menangis. Dalam
setiap halamannya, pembaca diajak berkenalan dengan “Klub Berduka” sebuah
komunitas fiktif yang mewakili rasa kehilangan yang universal, namun tetap
personal. Bahkan bagi pembaca yang belum mengalami duka yang dalam, buku ini
tetap relevan. Ia mengajarkan empati, mengingatkan tentang rapuhnya hidup, dan
memperkenalkan cara-cara sederhana namun bermakna untuk hadir sepenuhnya di
tengah emosi yang sulit.
Disampaikan dengan gaya bahasa yang tulus, lembut, dan penuh pengertian, buku ini seperti teman yang duduk di sampingmu, tidak memaksa untuk berbicara, hanya hadir dan itu sudah cukup. Jika kamu sedang berduka, buku ini bisa menjadi pelukan. Jika kamu belum pernah berduka, buku ini bisa menjadi persiapan batin, atau jendela untuk memahami orang-orang yang sedang melaluinya. Karena kehilangan adalah bagian dari hidup, dan pada akhirnya, semua orang akan belajar mencuci piringnya masing-masing. Pelan-pelan saja.
Kelebihan Buku
Buku
Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring memiliki kekuatan utama
pada kejujuran dan kedekatannya dengan pembaca. Ditulis oleh seorang psikiater
yang benar-benar merasakan pahitnya kehilangan, buku ini tidak terasa seperti
ceramah atau petunjuk teknis. Sebaliknya, ia hadir sebagai teman bercerita yang
tulus. Bahasanya sederhana namun menyentuh, seolah-olah kita sedang duduk
berdua di dapur, mendengarkan kisah seseorang yang perlahan belajar menerima
kehilangan dengan hati yang terbuka.
Kesan
hangat sudah terasa sejak bab awal yang mengajak pembaca masuk ke Klub Berduka.
Alih-alih menyuruh pembaca untuk cepat-cepat bangkit, buku ini justru
mengajarkan bahwa kesedihan tidak harus ditolak. Kehilangan adalah pengalaman
manusiawi yang sah untuk dirasakan. Klub Berduka menjadi simbol ruang aman,
tempat di mana kesedihan tidak dibanding-bandingkan dan tidak perlu
disembunyikan. Penulis juga mengingatkan, tidak semua orang harus paham rasamu,
dan itu tidak masalah.
Salah
satu keunikan buku ini adalah caranya memperkenalkan mindfulness lewat
aktivitas yang sangat sederhana, yaitu mencuci piring. Aktivitas
yang awalnya dibenci penulis justru menjadi sarana untuk hadir penuh di momen
kini. Di sinilah kecerdasan naratif penulis terlihat. Ia mengubah rutinitas
sehari-hari menjadi praktik penyembuhan emosional yang penuh makna. Tanpa
menggurui, ia memandu pembaca untuk melibatkan diri sepenuhnya dalam setiap
gerakan, setiap rasa, dan setiap napas.
Buku ini juga tidak takut untuk jujur. Kadang kita membaca bagian yang membuat kita tersenyum, kadang merasa ditenangkan, dan kadang merasa seolah seseorang benar-benar memahami kesedihan yang selama ini kita simpan sendiri. Humornya halus dan tidak mengganggu, justru membantu mengurai beban yang menumpuk dalam hati.
Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring adalah buku yang tidak menjanjikan solusi ajaib. Ia tidak akan mengangkat bebanmu, tapi ia bisa duduk di sebelahmu dan berkata, “Aku melihatmu. Kamu tidak sendirian.” Dalam kesederhanaannya, buku ini mengajarkan bahwa proses pulih bisa dimulai dari hal-hal kecil, dan bahwa perasaan sedih bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia seutuhnya.
Kelemahan Buku
Meskipun
buku ini sangat menyentuh dan dipenuhi dengan kehangatan, tetap ada beberapa
bagian yang mungkin terasa kurang menggigit bagi sebagian pembaca, khususnya
mereka yang mencari kedalaman teori psikologi secara lebih teknis. Karena
ditujukan untuk pembaca umum, beberapa konsep psikologi seperti Acceptance and
Commitment Therapy (ACT) disampaikan dengan pendekatan yang sangat sederhana
dan dibungkus dalam narasi keseharian. Hal ini tentu membuat buku ini sangat
mudah diakses, tetapi bagi pembaca yang sudah cukup familiar dengan psikologi,
penjelasannya bisa terasa terlalu ringan atau kurang menantang.
Selain
itu, gaya penulisan yang sangat personal dan penuh perenungan membuat alur buku
terasa melambat di beberapa bagian. Ada kalanya narasi terasa berputar-putar
dalam emosi yang sama sebelum akhirnya bergerak ke poin baru. Bagi pembaca yang
terbiasa dengan struktur buku pengembangan diri yang langsung pada intinya,
ritme seperti ini mungkin terasa membosankan atau repetitif.
Satu
hal lagi yang bisa jadi catatan adalah bahwa meskipun buku ini menyasar pembaca
umum, ia tetap menyentuh tema yang cukup berat. Kehilangan orang tua dan anak
adalah bentuk duka yang sangat dalam dan belum tentu semua pembaca bisa
langsung terhubung dengannya, terutama bagi mereka yang belum pernah merasakan
duka sedalam itu. Maka, ada kemungkinan sebagian pembaca merasa kurang
"masuk" atau merasa seperti orang luar yang hanya mengintip ke dalam
dunia yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Namun tentu saja, hal-hal ini bukan kekurangan fatal, melainkan bagian dari pilihan penulis dalam menyampaikan kisah dan pesannya. Jika kita membaca buku ini dengan niat untuk menemani, bukan menghakimi, maka kita akan lebih mampu menerima ritmenya dan meresapi pelajaran-pelajaran kecil yang tersembunyi di balik setiap kalimat yang penuh empati.
Kesimpulan
Buku
ini bukan hanya tentang kehilangan tetapi juga tentang keberanian untuk tetap
menjalani hidup di tengah luka. Dengan gaya bercerita yang sederhana dan
menyentuh, dr. Andreas Kurniawan mengajak pembaca untuk melihat duka sebagai
sesuatu yang tidak harus diselesaikan melainkan diterima dengan penuh
kesadaran. Meski terasa lebih cocok untuk dibaca saat berduka, buku ini tetap
meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang membacanya. Sebab pada
akhirnya, semua orang akan bertemu duka.
