Sumber foto: Freepik
Di tengah era globalisasi yang kian cepat, dunia pendidikan kita dihadapkan pada tantangan penting: bagaimana menyeimbangkan pelestarian budaya lokal dengan kebutuhan menghadapi dunia internasional. Salah satu perdebatan yang sering muncul adalah soal penting tidaknya pembelajaran bahasa daerah seperti bahasa Jawa di sekolah, sementara di sisi lain, tuntutan penguasaan bahasa asing seperti bahasa Inggris juga tak bisa diabaikan.
Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai luhur, tata krama, dan cara berpikir khas masyarakat Jawa. Lewat pembelajaran bahasa Jawa, siswa diajak memahami konsep unggah-ungguh, empan papan, dan berbagai filosofi hidup yang mendalam. Bahasa ini membentuk karakter dan kepribadian yang santun, menghargai sesama, serta memiliki kesadaran sosial tinggi. Di tengah makin memudarnya nilai-nilai etika, pembelajaran bahasa Jawa justru menjadi benteng pertahanan identitas dan moral.
Namun, di sisi lain, bahasa asing seperti bahasa Inggris juga sangat penting. Di era digital dan keterhubungan global ini, penguasaan bahasa Inggris membuka akses ke berbagai informasi, ilmu pengetahuan, kesempatan beasiswa, karier, dan jejaring internasional. Anak-anak Indonesia harus dibekali dengan kemampuan bahasa Inggris agar mampu bersaing dan berkontribusi di kancah global.
Masalahnya bukan soal memilih salah satu dan menyingkirkan yang lain. Justru tantangan sebenarnya adalah bagaimana sekolah bisa menjadikan keduanya sebagai bagian dari pembentukan siswa yang berkarakter sekaligus kompeten secara global. Bahasa Jawa menumbuhkan akar yang kuat, sedangkan bahasa Inggris melebarkan sayap ke berbagai peluang masa depan. Akar dan sayap, keduanya sama penting.
Yang dibutuhkan adalah pendekatan kreatif dan seimbang. Bahasa Jawa tidak lagi diajarkan dengan cara monoton, tetapi bisa dikemas lewat proyek kebudayaan, pentas seni, hingga media digital yang dekat dengan kehidupan siswa. Begitu juga bahasa Inggris, tidak hanya berfokus pada tata bahasa, tetapi diarahkan pada keberanian berbicara, menulis, dan berpikir kritis.
Kita tidak sedang melestarikan bahasa Jawa hanya demi romantisme masa lalu, melainkan sebagai fondasi karakter bangsa. Kita juga tidak mengajarkan bahasa Inggris semata-mata agar anak bisa tampil keren, tetapi agar mereka mampu menjangkau dunia lebih luas. Bahasa Jawa dan bahasa Inggris bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua kekuatan yang jika disinergikan, bisa melahirkan generasi yang berakar kuat dan mampu terbang tinggi.
"Siapa yang tidak tahu dari mana asalnya, akan mudah kehilangan arah ke mana ia akan pergi."
